Friday, October 27, 2006

Lift halte Sarinah (2)

Setelah mangkrak lebih dari dua tahun, akhirnya lift di halte Busway Sarinah, Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat berfungsi. Lift yang hanya ada di halte tersebut telah dibangun sejak tahun 2003 itu seharusnya berfungsi bersamaan dengan mulai dioperasikannya busway koridor I pada awal tahun 2004.

“Sudah difungsikan sejak bulan puasa, sekitar tanggal 13 Oktober,” tutur petugas halte busway, Nurochman kepada Tempo, Jumat (27/10). Ia menambahkan, sebelumnya lift juga sudah pernah berfungsi, hanya saja kadangkala mati karena gangguan tenaga listrik.

Menurut Nurochman, lift berukuran 2,5x2,5 meter itu diprioritaskan bagi penyandang cacat, ibu hamil, dan masyarakat yang berusia lanjut (manula). Namun, lanjutnya, masyarakat yang lain juga diperkenankan memanfaatkannya.

Seperti hari ini, seorang perempuan muda tampak masuk ke dalam lift yang berada di bagian tengah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Ia kemudian keluar dari pintu lift yang terdapat di area halte busway. “Bagus, jadi lebih praktis, daripada harus berjalan,” kata Asri, 21 tahun.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Nurachman mengemukakan keberadaan lift tersebut adalah hasil kerjasama dengan pihak ke-tiga yakni pengiklan. Sebab biaya pembangunan, pengoperasian, dan perawatanlift cukup besar. “Tapi saya kurang tahu perusahaan apa,” katanya ketika dihubungi Tempo melalui telephon. [Indriani Dyah S - TEMPO] Foto: Kodok Ngerock

Read More...

Wednesday, April 19, 2006

Ketika Harmoni dibenahi

gara-gara halte harmoninya ga di beres-beresin
penumpang yg pengen pindah jalur jadi kusut dimana-mana :D

contohnya:

1. dari blok m ke kalideres, musti turun di halte sawah besar, trus ikut antrian lagi di pintu halte itu juga. (hati-hati bisa-bisa tabrakan dengan penumpang lain yg juga keluar masuk di pintu halte ini)

2. dari kalideres ke kota, sama juga turun & pindah bis di halte sawah besar.

3. dari kalideres ke blok m, turun di sawah besar, nyebrang sungai (masih satu halte sih), trus naek yg ke arah blok m

4. dari kota ke kalideres: turun di halte sawah besar, nyebrang sungai, naik bus yg ke kalideres

5. dari kota ke pulogadung: turun di monas, pidah ke bus yg arah pulogadung

6. dari pulogadung ke blok m: turun di monas, pindah ke bus yg arah blok m


dua perpindahan penumpang yg paling ruwet: dari pulogadung ke kota dan dari blok m ke pulogadung gw ceritain besok aja. dah ngantuk nih
slipi dulu deh :D

Read More...

Friday, March 24, 2006

Halte Bank Indonesia

Read More...

Friday, March 17, 2006

Lift halte Sarinah

Tiga unit lift di halte busway Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakpus, sampai saat ini belum berfungsi setelah selesai dibangun dua tahun lalu. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, Jumat (17/3), mengatakan pengoperasian tiga unit lift masih menunggu keluarnya surat keterangan surat keselamatan kerja dari Departemen Tenaga Kerja.

Proses pengurusan sertifikat sedang berlangsung, namun belum diketahui kapan akan dikeluarkan. Menurut Pristono, ketiga unit lift itu sudah pernah diuji coba. Ia menjelaskan, karena berada di tempat terbuka, persyaratan pengoperasian lift itu berbeda jika lift berada di dalam ruangan atau gedung.

Pemprov DKI Jakarta pada tahun 2003, sebelum busway koridor I beroperasi, berencana membangun sejumlah unit lift di halte busway Sarinah dan halte busway Ratu Plaza. Pembangunan dibiayai pihak swasta dengan kompensasi titik iklan di koridor busway.

Asisten Administrasi Pembangunan DKI Jakarta saat itu, Irzal Jamal, mengatakan biaya pembangunan satu unit lift Rp1,5 miliar. Namun yang akhirnya dibangun hanya di halte busway Sarinah. Pembangunan lift di halte busway betujuan untuk membantu penumpang yang memiliki cacat fisik.

Saat ini kondisi lift di halte busway Sarinah tampak tidak terurus. Selain dipenuhi sampah, di depan pintu lift sering menjadi tempat mangkal pengemis dan gelandangan. [Kompas] Foto: Kodok Ngerock

Read More...

Friday, February 24, 2006

Kutunggu di halte Tosari

Setelah ngobrolin kapan waktu ketemuan yg enak sama Iwan gak ketemu ketemu ajah, tiba tiba sehabis magrib ada ide buat ketemuan di halte busway tosari yang mana seharusnya (gw ga tau kantornya iwan arah mana) karena hotel gw nginep dan rumah kos nya iwan deket kita bisa ketemuan ajah di salah satu halte yg deket deket situ. 


Kebetulan Halte Tosari adalah tempat gw turun dan naek kalo dari dan ke kantor.

Iwan pun menyanggupi, masih dengan keraguan sebenarnya karena biasanya nunggu busway di sawah besar itu luar biasa lamanya. 
Gak pa pa gw bilang siapapun yg duluan mesti nungguin. 
Ok. jadi deh. 
Tadinya ga niat mau kemana mana sih, hanya ketemuan di halte tapi tiba tiba iwan bilang tapi ntar makan ya lapar banget nih. :D 
Iwan gitu lho si paman gembul satu itu memang doyan makan hihihihihihihi. ya udah kalo gitu kubawain roti deh buat ganjel lapar adik satu itu. [lanjut ke blognya puji]

Read More...

Saturday, September 10, 2005

Adakah yang lebih efektif?

Belajar Naik Bus

Setidaknya telah ada 8.085 anak sekolah yang mengikuti 'kursus' naik bus Transjakarta. Mereka tercatat sejak busway diluncurkan di Jakarta pada Januari 2004 hingga September 2005 ini. Dari program khusus ini, Badan Pengelola Transjakarta paling tidak mendapat Rp 20.212.500.

Badan Pengelola Transjakarta merasa perlu menyosialisasikan tata cara bertransportasi. Mereka diajari antre beli tiket, cara memasukkan tiket ke mesin pembuka palang pintu ke ruang tunggu, cara masuk ke bus dengan mendahulukan penumpang turun, tidak berdiri bersandar di pintu bus, dan sebagainyaa, termasuk cara melihat rambu-rambu. Anak-anak sekolah yang didampingi para guru itu tentu juga harus membayar tiket bus seharga Rp 2.500 sebelum mereka meluncur lewat jalur khusus dari Blok M ke Kota.

Mendengar program pendidikan transportasi dari BP Transjakarta ini, saya lantas teringat pengalaman sehari setelah menginjakkan kaki di Washington DC, Amerika Serikat. ''Kita dianggap orang kampung,'' kata seorang rekan dari Semarang, sambil tersenyum getir.

Bukan apa-apa. Pukul 08.00 pagi kami berangkat dari hotel menuju stasiun metro (subway). Ketika turun lewat eskalator saya berdiam di sebelah kiri. Di Jakarta saya terbiasa begitu, sehingga jalur kanan bisa dipakai oleh orang yang tergesa-gesa. Tapi rupanya posisi saya salah. ''Jalur kiri untuk jalur cepat, kalau berdiam di sebelah kanan saja,'' kata escort memeringatkan.

Perihal naik eskalalator, di Indonesia saya tak berhasil menularkan tata cara yang baik. Ketika beramai-ramai naik eskalator saya sering menganjurkan agar semuanya berada di satu sisi, sehingga sisi lain bisa digunakan oleh orang yang terburu-buru. Tapi, selalu saja banyak orang senang bergerombol di eskalator sehingga menutup seluruh sisi.

Seorang kolega di Mataram bercerita, saat di sana diresmikan sebuah mal, masyarakat pun berbondong-bondong mengunjunginya, hanya untuk mencoba eskalator. Setiap hari banyak antre di depan eskalator untuk mencapai lantai berikutnya. Banyak yang takut untuk menginjakkan kaki ke tangga eskalator yang sudah berjalan itu. Mereka pun menginjakkan kaki ragu-ragu, dan alhasil, banyak yang jatuh. Tapi, bukan malu yang mereka dapatkan, melainkan derai tawa, karena bukan satu-dua orang yang terjatuh.

Lepas dari eskalator, escort meminta kami untuk memegang uang 10 dolar AS. ''Kita akan membeli tiket metro,'' ujar dia. Ia pun kemudian memandu satu per satu dari kami, mulai dari cara memasukkan dolar ke mesin, memencet angka harga tiket yang kita pilih, sampai tempat tiket akan keluar dari mesin. Kami pun diberi tahu cara mengisi ulang tiket jika sudah nilai dolar di tiket itu sudah tak mencukupi untuk dipakai naik metro. ''Bagus-bagus, kalian cepat belajar,'' kata escort 'memuji' kami, setelah semua dari kami memegang tiket.

Kami pun diajari cara memasukkan tiket ke lubang mesin untuk membuka palang pintu, termasuk memberi tahu tempat mengambil tiket yang telah kami masukkan. Bahkan, kami pun diberi tahu mana palang pintu untuk masuk dan mana untuk keluar stasiun, dengan memperkenalkan rambu yang tertera, meski tanpa diberitahu pun sebenarnya sudah tahu. Kami merasa menjadi orang bodoh saat itu. Tapi, ketika ia melihat kamera digital yang kami bawa, ia bilang, ''O, kameranya lebih canggih dari kamera saya. Hebat kalian.''

Saat menunggu kereta datang, kami pun masih menerima briefing. Diberitahu agar tidak langsung menyerbu di depan pintu, karena bisa menutup jalan bagi penumpang yang akan turun kereta. Diberitahu untuk mendulukan penumpang turun, baru setelah itu giliran kami masuk.

Pemandangan yang ada begitu tertib. Ketika kami tiba di stasiun tertuju, calon penumpang pun tak ada yang berebut naik, melainkan membiarkan kami turun, baru mereka naik. Metro di Washington DC begitu tertib, begitu kontras dengan metro di New York. Untuk mencapai stasiun bawah tanah di New York, kami harus menapaki tangga yang kotor, bukan eskalator. Di sini tak perlu 'kursus' membeli tiket, karena tiket dibeli di loket. Tapi ada satu pesan, yang telah sering kita dengar di Jakarta. ''Perhatikan barang bawaan, karena di sini juga ada copet,'' kata escort.

Di Jakartaa, para pencopet mau berkorban untuk bisa beroperasi di bus Transjakarta. Selain harus membeli tiket, mereka juga tampil rapi: berpakaian ala orang kantoran, plus dasi mengikat leher, menyesuaikan dengan pakaian penumpang. Para pencopet dan penumpang lain, sama-sama sering abai aturan. Mereka berebut masuk ke bus, sehingga penumpang yang mau turun terhambat.

Memberikan pendidikan transportasi kepada anak sekolah tentu dengan sebuah harapan: bahwa mereka telah mempunyai bekal disiplin sejak kecil. Tapi apa iya, cara ini manjur? Ingat-ingatlah apa yang kita peroleh ketika kita juga masih di sekolah dasar dulu. Kita sering diajari tata cara menyeberang, tata cara menyalip kendaraan, tata cara membuang sampah, dan sebagainya. Yang tidak kita dapatkan saat itu adalah tata cara merokok yang tidak membahayakan orang lain. Toh, hasilnya sama saja. Kini kita terbiasa merokok, membuang sampah, menyeberang, dan menyalip kendaraan dengan sembarangan. (Priyantono Oemar, proe12@republika.co.id )

Read More...

Thursday, September 9, 2004

Kronika 2002-2004

26 Desember 2002
Sosialisasi pemasangan rambu lalu lintas: Khusus Busway oleh Dinas Perhubungan Pemprov Jakarta

Jumat, 28 Februari 03:
Selama satu jam, untuk pertama kali Gubernur Sutiyoso melakukan sosialisasi dengan naik bus Transjakarta dari Balikota ke Bundaran Senayan.

26 April-7 Mei 2003:
Studi banding Gubernur Sutiyoso ke Bogota-Kolumbia; Sao Paolo-Brasil; dan Mexico City, Mexico.

Sabtu, 21 Juni 2003:
Dua bus sosialisasi di arena Pekan Raya Jakarta.

Oktober 2003
Dimulainya pembangunan halte, separator, dan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) oleh Dinas Perhubungan Pemprov Jakarta.

31 Desember 2003:
Gubernur Sutiyoso mengeluarkan Surat Keputusan (SK) No 110 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola TransJakarta-Busway Pemprov DKI Jakarta

Senin, 5 Januari 2004:
Ir Irzal Z Djamal dilantik oleh Gubernur Sutiyoso menjadi Kepala Badan Pengelola TransJakarta-Busway yang pertama kali.

Rabu, 6 Januari 2004:
Para calon pramudi (sopir) bus transjakarta mulai mendapatkan pelatihan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Lalu Lintas Serpong, Tangerang.

Sabtu, 10 Januari 2004
Untuk pertama kali, pramudi latihan di sepanjang jalur transjakarta busway.

Kamis, 15 Januari 2004:
Gubernur Sutiyoso meresmikan penggunaan bus TransJakarta untuk pertama kali, dua minggu warga diberi kesempaan gratis untuk naik.

Jumat, 23 Januari 2004:
Suami Presiden Megawati Soekarnoputri, Taufik Kiemas naik bus transjakarta.

Minggu, 25 Januari 2004:
BP TransJakarta meneken kontrak dengan operator bus feeder

27 Januari 2004:
Menko Perekonomian Dorojatun Kuntjorojakti, Menristek Hatta Radjasa, Menpariwisata I Gde Ardika, mencoba bus transjakarta.

30 Januari 2004:
Mendagri Hari Sabarno bersama Sekjen dan tiga Dirjen didampingi Gubernur Sutiyoso, mencoba bus transjakarta.

Minggu, 1 Februari 2004:
Bus TransJakarta resmi beroperasi dengan ditandai dengan naiknya Gubernur Sutiyoso beserta rombongan ke acara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al Azhar di Kebayoran.
Hari itu tercatat jumlah penumpang bus transjakarta: 27.770

20 Februari 2004:
Tujuh orang pejabat Transportasi dari Dhaka, Bangladesh belajar bagaimana transjakarta beroperasi

27 Februari 2004:
Penumpang tertinggi Bulan Februari: 48.888

3 Maret 2004:
Pemaparan Survey JICA (Japan International Cooperation Agency) dan Bappenas di bulan Februari 2004 menunjukkan, setidaknya 14% penumpang Transjakarta Busway berasal dari pengguna mobil pribadi dan 6% pengguna motor. Perubahan moda transportasi ini memiliki arti penting dalam menurunkan emisi kendaraan bermotor

30 Maret 2004:
Penumpang tertinggi Bulan Maret: 62.322. Saat itu ada kampanye legislatif oleh Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Bintang Reformasi

4 Agustus 2004:
Pejabat lintas dinas Pemprov Bali, dipimpin Wakil Gubernur Bali Alit Kesuma Kelakan belajar bagaimana bus transjakarta memberikan pelayanan kepada publik.

18 Agustus 2004:
Sembilan rombongan Dewan Kota Seoul Korea Selatan, yang dipimpin Wakil Ketua Dewan Min Youn-Sik, mengunjungi BP TransJakarta dan sempat mencoba bus transjakarta

Read More...