Showing posts with label komentar. Show all posts
Showing posts with label komentar. Show all posts

Saturday, May 12, 2007

Tidak nyaman

Pada hari Senin (30/4) yang lalu, saya berbelanja di ITC Roxy. Setelah selesai, sekitar pukul 16.30 WIB saya pulang. Biasanya langsung naik Kopami 12 ke arah Senen kemudian dilanjutkan ke arah Lebakbulus dan turun di Buncit Raya

Untuk menghindari kemacetan, saya menggunakan jasa busway dari Jelambar dengan maksud agar dapat pulang lebih cepat walaupun harus berganti-ganti bus dan menempuh jarak yang agak jauh. Dari halte Jelambar saya begitu menikmati perjalanan sampai Harmoni. Begitu turun dan ketika akan menaiki busway yang ke arah Blok M saya harus mengikuti antrean yang begitu panjang dan dorongan dari belakang ketika busway berhenti.

Setelah menunggu sekitar 20 menit akhirnya saya dapat menaiki busway ke arah Blok M dengan berdiri dan turun di dukuh atas. Saya menghadapi masalah yang sama, harus antre berdesakan, menunggu lama, dan naik berdiri busway jurusan Pulau Gadung.

Kejadian tidak nyaman terus saya alami sampai di Pecenongan. Ketika hendak turun dan melanjutkan ke arah Ragunan, halte sudah penuh dan saya turun berdesakan dengan penumpang lain menuju arah yang sama. Setelah menunggu setengah jam, busway koridor VI yang saya tunggu tidak kunjung tiba.

Kemudian busway datang tepat behenti pada pintu yang telah dipenuhi penumpang yang akan naik, akibatnya penumpang yang akan turun tidak dapat turun karena tertahan oleh penuhnya penumpang yang antre akan naik. Hal ini membuat suasana gaduh dan keributan layaknya di pasar. Sekitar satu jam kemudian saya baru dapat menaiki busway berdesakan, berdiri, dan dengan gaya sopir lintas trans sumatera yang ngebut dan selalu ngerem mendadak.
Saya harap pihak busway memperhatikan aspek kenyamanan penumpang, sehingga kejadian ini tidak saya alami lagi.

Gozali
Jl Warung Jati RT 03/09
Kalibata, Pancoran
Jakarta Selatan 12790
Republika Online

Read More...

Saturday, September 10, 2005

Adakah yang lebih efektif?

Belajar Naik Bus

Setidaknya telah ada 8.085 anak sekolah yang mengikuti 'kursus' naik bus Transjakarta. Mereka tercatat sejak busway diluncurkan di Jakarta pada Januari 2004 hingga September 2005 ini. Dari program khusus ini, Badan Pengelola Transjakarta paling tidak mendapat Rp 20.212.500.

Badan Pengelola Transjakarta merasa perlu menyosialisasikan tata cara bertransportasi. Mereka diajari antre beli tiket, cara memasukkan tiket ke mesin pembuka palang pintu ke ruang tunggu, cara masuk ke bus dengan mendahulukan penumpang turun, tidak berdiri bersandar di pintu bus, dan sebagainyaa, termasuk cara melihat rambu-rambu. Anak-anak sekolah yang didampingi para guru itu tentu juga harus membayar tiket bus seharga Rp 2.500 sebelum mereka meluncur lewat jalur khusus dari Blok M ke Kota.

Mendengar program pendidikan transportasi dari BP Transjakarta ini, saya lantas teringat pengalaman sehari setelah menginjakkan kaki di Washington DC, Amerika Serikat. ''Kita dianggap orang kampung,'' kata seorang rekan dari Semarang, sambil tersenyum getir.

Bukan apa-apa. Pukul 08.00 pagi kami berangkat dari hotel menuju stasiun metro (subway). Ketika turun lewat eskalator saya berdiam di sebelah kiri. Di Jakarta saya terbiasa begitu, sehingga jalur kanan bisa dipakai oleh orang yang tergesa-gesa. Tapi rupanya posisi saya salah. ''Jalur kiri untuk jalur cepat, kalau berdiam di sebelah kanan saja,'' kata escort memeringatkan.

Perihal naik eskalalator, di Indonesia saya tak berhasil menularkan tata cara yang baik. Ketika beramai-ramai naik eskalator saya sering menganjurkan agar semuanya berada di satu sisi, sehingga sisi lain bisa digunakan oleh orang yang terburu-buru. Tapi, selalu saja banyak orang senang bergerombol di eskalator sehingga menutup seluruh sisi.

Seorang kolega di Mataram bercerita, saat di sana diresmikan sebuah mal, masyarakat pun berbondong-bondong mengunjunginya, hanya untuk mencoba eskalator. Setiap hari banyak antre di depan eskalator untuk mencapai lantai berikutnya. Banyak yang takut untuk menginjakkan kaki ke tangga eskalator yang sudah berjalan itu. Mereka pun menginjakkan kaki ragu-ragu, dan alhasil, banyak yang jatuh. Tapi, bukan malu yang mereka dapatkan, melainkan derai tawa, karena bukan satu-dua orang yang terjatuh.

Lepas dari eskalator, escort meminta kami untuk memegang uang 10 dolar AS. ''Kita akan membeli tiket metro,'' ujar dia. Ia pun kemudian memandu satu per satu dari kami, mulai dari cara memasukkan dolar ke mesin, memencet angka harga tiket yang kita pilih, sampai tempat tiket akan keluar dari mesin. Kami pun diberi tahu cara mengisi ulang tiket jika sudah nilai dolar di tiket itu sudah tak mencukupi untuk dipakai naik metro. ''Bagus-bagus, kalian cepat belajar,'' kata escort 'memuji' kami, setelah semua dari kami memegang tiket.

Kami pun diajari cara memasukkan tiket ke lubang mesin untuk membuka palang pintu, termasuk memberi tahu tempat mengambil tiket yang telah kami masukkan. Bahkan, kami pun diberi tahu mana palang pintu untuk masuk dan mana untuk keluar stasiun, dengan memperkenalkan rambu yang tertera, meski tanpa diberitahu pun sebenarnya sudah tahu. Kami merasa menjadi orang bodoh saat itu. Tapi, ketika ia melihat kamera digital yang kami bawa, ia bilang, ''O, kameranya lebih canggih dari kamera saya. Hebat kalian.''

Saat menunggu kereta datang, kami pun masih menerima briefing. Diberitahu agar tidak langsung menyerbu di depan pintu, karena bisa menutup jalan bagi penumpang yang akan turun kereta. Diberitahu untuk mendulukan penumpang turun, baru setelah itu giliran kami masuk.

Pemandangan yang ada begitu tertib. Ketika kami tiba di stasiun tertuju, calon penumpang pun tak ada yang berebut naik, melainkan membiarkan kami turun, baru mereka naik. Metro di Washington DC begitu tertib, begitu kontras dengan metro di New York. Untuk mencapai stasiun bawah tanah di New York, kami harus menapaki tangga yang kotor, bukan eskalator. Di sini tak perlu 'kursus' membeli tiket, karena tiket dibeli di loket. Tapi ada satu pesan, yang telah sering kita dengar di Jakarta. ''Perhatikan barang bawaan, karena di sini juga ada copet,'' kata escort.

Di Jakartaa, para pencopet mau berkorban untuk bisa beroperasi di bus Transjakarta. Selain harus membeli tiket, mereka juga tampil rapi: berpakaian ala orang kantoran, plus dasi mengikat leher, menyesuaikan dengan pakaian penumpang. Para pencopet dan penumpang lain, sama-sama sering abai aturan. Mereka berebut masuk ke bus, sehingga penumpang yang mau turun terhambat.

Memberikan pendidikan transportasi kepada anak sekolah tentu dengan sebuah harapan: bahwa mereka telah mempunyai bekal disiplin sejak kecil. Tapi apa iya, cara ini manjur? Ingat-ingatlah apa yang kita peroleh ketika kita juga masih di sekolah dasar dulu. Kita sering diajari tata cara menyeberang, tata cara menyalip kendaraan, tata cara membuang sampah, dan sebagainya. Yang tidak kita dapatkan saat itu adalah tata cara merokok yang tidak membahayakan orang lain. Toh, hasilnya sama saja. Kini kita terbiasa merokok, membuang sampah, menyeberang, dan menyalip kendaraan dengan sembarangan. (Priyantono Oemar, proe12@republika.co.id )

Read More...

Sunday, January 18, 2004

Lahir sangat prematur

Bossway

Baiklah, Transjakarta kadung berjalan. Ia bakal menjadi icon baru transportasi Jakarta, setelah bus semacam Metromini dan Kopaja berhasil menjelma sebagai istilah generik angkutan umum menengah Ibu Kota.

Sebagai bayi, Transjakarta lahir sangat prematur. Tak cukup usia kandungan untuk dia sebenarnya. Bayangkan, hanya sehari sebelum peluncurannya, banyak warga tetap tak mengenalnya: Apakah rute bus saya selama ini akan terpangkas? Apa makna bus pengumpan? Bagaimana orang cacat bisa menggunakannya? Di mana saya boleh memutar bila mobil saya harus melintasi jalur Transjakarta?

Kita tak tahu apa yang menekan Bang Yos untuk berkeras dengan jadwalnya. Kita mungkin tak perlu tahu. Tapi, kita perlu mengingatkan dia tentang adanya kesenjangan komunikasi antara pembuat kebijakan dan warga kota. Ada jarak antara agenda Bang Gubernur dan cita-cita warga.

Siapa yang harus memperpendek jarak itu? Tentu bukan warga yang harus berusaha keras memahami para pemimpin. Tentu bukan rakyat karena mereka akan terpontang-panting--sebagaimana terjadi di era Presiden Wahid. Gubernurlah yang harus mengenali kemauan warganya dan memperkenalkan sebaik-baiknya keputusan dia.

Umar bin Khattab, khalifah kedua pada era awal kejayaan Islam, berusaha mengenal rakyatnya dengan mengunjungi langsung rumah-rumah mereka. Ia tak cukup mendengar laporan bawahannya. Ia secara incognito mendatangi kampung-kampung untuk mendekatkan jarak, sehingga hilang segala noise komunikasi.

Sebagai pemimpin, Umar menemukan kenyataan ada seorang ibu yang harus merebus batu untuk menghibur anaknya yang kelaparan. Umar yang terkenal berwatak keras pun luluh. Hatinya menangis. Ia kemudian rela menggendong sendiri karung gandum untuk sang ibu.

Kesenjangan komunikasi bisa sama buruknya dengan kebijakan yang buruk. Transjakarta boleh jadi konsep yang baik. Tapi, ia bisa cacat karena warga tidak cukup bisa memahami keberadaannya. Warga, misalnya, masih saja bertanya-tanya mengapa perjalanan mereka di Ibu Kota tetap menyita waktu amat banyak, berjam-jam hanya untuk beberapa kilometer?

Transjakarta lahir dengan inspirasi busway di Bogota. Tapi, Bang Yos tak sepenuhnya mengambil konsep di ibu kota Kolombia itu. Ia memungutnya sebagian.

Di Bogota, kelahiran busway beriringan dengan perubahan radikal kultur berkendaraan. Warga sudah jenuh dengan kemacetan dan polusi udara. Maka, saat Walikota Enrique Penalosa menawarkan sepeda sebagai penyelesaian, mereka antusias. Busway pun akhirnya lahir dalam paket yang sama dengan ''sepedaway''.

Penalosa mengawali proyeknya pada 1980-an. Ia menutup sejumlah jalan selama tujuh jam pada hari Ahad dari mobil. Warga yang hendak pergi agak jauh cukup mengunjungi halte busway. Ia memarkir sepedanya di sana, lalu menuntaskan perjalanan dengan bus. Prasarana untuk bus umum maupun sepeda diperbaiki.

Kini, saat Penalosa telah pensiun, 120 kilometer jalan di Bogota bebas dari mobil pribadi sepanjang hari Ahad. Dua juta sepeda pada hari tersebut turun ke jalan raya, berbaur dengan pejalan kaki dan pengguna roller blade.

Penalosa bukannya tak punya penentang. Kalangan bisnis sempat menolak. Sebuah kritik mengatakan ia hendak mengkomuniskan Bogota--karena seluruh warga bersepeda dan berkendaraan umum. Tapi, Penalosa dapat meyakinkan warga Bogota karena ia pun larut dalam konsep untuk warganya. Ia adalah bagian dari warga.

Jadi, Penalosa pun bersepeda. Ia juga menggunakan busway. Ia merasakan langsung kekurangan pada gagasannya. Ia bagai Umar yang mempersempit jarak komunikasi dengan terjun langsung ke wilayah kehidupan rakyatnya.

Saya, terus terang, tak begitu tega membayangkan Bang Yos larut dalam pekerjaan besarnya kali ini: Ia keluar dari rumah di kawasan Taman Suropati, melenggang 50 meter ke Jalan Diponegoro, lalu menanti kedatangan bus pengumpan di halte Gedung Bappenas.

Kemudian, ia naik bus menuju Jalan Sudirman, lalu antre karcis di halte busway, dan naik Transjakarta menuju kawasan Monas. Dari Jalan Medan Merdeka Barat, mungkin ia harus naik bajaj, atau kancil di masa depan, ke kantornya. Saat terguncang-guncang di dalam bajaj yang full asap, ia mulai berpikir-pikir untuk memakai sepeda--seperti Penalosa.

Walau tak begitu tega, saya menyarankan ia mencobanya. Bukan hanya saat peluncuran Transjakarta, Kamis lalu--sebuah seremoni penuh artis. Mungkin, seperti Penalosa, ia bisa menekadkan diri untuk melakukannya sepekan sekali, katakanlah di hari Senin atau Jumat.

Dengan begitu, ia bisa memandang kotanya dari cara pandang warga lain. Tunjukkan kenyamanan konsep busway. Tetaplah berjas dan berdasi. Tunjukkan pula keamanannya. Sekalian bawa lap top dan handphone seperti biasa dan bekerjalah di atas bus.

Bolehlah, dari atas Transjakarta Bang Yos meledek penumpang mobil pribadi yang terjebak kemacetan, sementara ia dan busnya melaju tanpa rintangan. Ia menunjukkan bahwa busway layak untuk eksekutif seperti dia; bahwa busway adalah juga bossway. kalyara@yahoo.com (Arys Hilman - republika)

Read More...