Friday, February 24, 2006

Kutunggu di halte Tosari

Setelah ngobrolin kapan waktu ketemuan yg enak sama Iwan gak ketemu ketemu ajah, tiba tiba sehabis magrib ada ide buat ketemuan di halte busway tosari yang mana seharusnya (gw ga tau kantornya iwan arah mana) karena hotel gw nginep dan rumah kos nya iwan deket kita bisa ketemuan ajah di salah satu halte yg deket deket situ. 


Kebetulan Halte Tosari adalah tempat gw turun dan naek kalo dari dan ke kantor.

Iwan pun menyanggupi, masih dengan keraguan sebenarnya karena biasanya nunggu busway di sawah besar itu luar biasa lamanya. 
Gak pa pa gw bilang siapapun yg duluan mesti nungguin. 
Ok. jadi deh. 
Tadinya ga niat mau kemana mana sih, hanya ketemuan di halte tapi tiba tiba iwan bilang tapi ntar makan ya lapar banget nih. :D 
Iwan gitu lho si paman gembul satu itu memang doyan makan hihihihihihihi. ya udah kalo gitu kubawain roti deh buat ganjel lapar adik satu itu. [lanjut ke blognya puji]

Read More...

Saturday, September 10, 2005

Adakah yang lebih efektif?

Belajar Naik Bus

Setidaknya telah ada 8.085 anak sekolah yang mengikuti 'kursus' naik bus Transjakarta. Mereka tercatat sejak busway diluncurkan di Jakarta pada Januari 2004 hingga September 2005 ini. Dari program khusus ini, Badan Pengelola Transjakarta paling tidak mendapat Rp 20.212.500.

Badan Pengelola Transjakarta merasa perlu menyosialisasikan tata cara bertransportasi. Mereka diajari antre beli tiket, cara memasukkan tiket ke mesin pembuka palang pintu ke ruang tunggu, cara masuk ke bus dengan mendahulukan penumpang turun, tidak berdiri bersandar di pintu bus, dan sebagainyaa, termasuk cara melihat rambu-rambu. Anak-anak sekolah yang didampingi para guru itu tentu juga harus membayar tiket bus seharga Rp 2.500 sebelum mereka meluncur lewat jalur khusus dari Blok M ke Kota.

Mendengar program pendidikan transportasi dari BP Transjakarta ini, saya lantas teringat pengalaman sehari setelah menginjakkan kaki di Washington DC, Amerika Serikat. ''Kita dianggap orang kampung,'' kata seorang rekan dari Semarang, sambil tersenyum getir.

Bukan apa-apa. Pukul 08.00 pagi kami berangkat dari hotel menuju stasiun metro (subway). Ketika turun lewat eskalator saya berdiam di sebelah kiri. Di Jakarta saya terbiasa begitu, sehingga jalur kanan bisa dipakai oleh orang yang tergesa-gesa. Tapi rupanya posisi saya salah. ''Jalur kiri untuk jalur cepat, kalau berdiam di sebelah kanan saja,'' kata escort memeringatkan.

Perihal naik eskalalator, di Indonesia saya tak berhasil menularkan tata cara yang baik. Ketika beramai-ramai naik eskalator saya sering menganjurkan agar semuanya berada di satu sisi, sehingga sisi lain bisa digunakan oleh orang yang terburu-buru. Tapi, selalu saja banyak orang senang bergerombol di eskalator sehingga menutup seluruh sisi.

Seorang kolega di Mataram bercerita, saat di sana diresmikan sebuah mal, masyarakat pun berbondong-bondong mengunjunginya, hanya untuk mencoba eskalator. Setiap hari banyak antre di depan eskalator untuk mencapai lantai berikutnya. Banyak yang takut untuk menginjakkan kaki ke tangga eskalator yang sudah berjalan itu. Mereka pun menginjakkan kaki ragu-ragu, dan alhasil, banyak yang jatuh. Tapi, bukan malu yang mereka dapatkan, melainkan derai tawa, karena bukan satu-dua orang yang terjatuh.

Lepas dari eskalator, escort meminta kami untuk memegang uang 10 dolar AS. ''Kita akan membeli tiket metro,'' ujar dia. Ia pun kemudian memandu satu per satu dari kami, mulai dari cara memasukkan dolar ke mesin, memencet angka harga tiket yang kita pilih, sampai tempat tiket akan keluar dari mesin. Kami pun diberi tahu cara mengisi ulang tiket jika sudah nilai dolar di tiket itu sudah tak mencukupi untuk dipakai naik metro. ''Bagus-bagus, kalian cepat belajar,'' kata escort 'memuji' kami, setelah semua dari kami memegang tiket.

Kami pun diajari cara memasukkan tiket ke lubang mesin untuk membuka palang pintu, termasuk memberi tahu tempat mengambil tiket yang telah kami masukkan. Bahkan, kami pun diberi tahu mana palang pintu untuk masuk dan mana untuk keluar stasiun, dengan memperkenalkan rambu yang tertera, meski tanpa diberitahu pun sebenarnya sudah tahu. Kami merasa menjadi orang bodoh saat itu. Tapi, ketika ia melihat kamera digital yang kami bawa, ia bilang, ''O, kameranya lebih canggih dari kamera saya. Hebat kalian.''

Saat menunggu kereta datang, kami pun masih menerima briefing. Diberitahu agar tidak langsung menyerbu di depan pintu, karena bisa menutup jalan bagi penumpang yang akan turun kereta. Diberitahu untuk mendulukan penumpang turun, baru setelah itu giliran kami masuk.

Pemandangan yang ada begitu tertib. Ketika kami tiba di stasiun tertuju, calon penumpang pun tak ada yang berebut naik, melainkan membiarkan kami turun, baru mereka naik. Metro di Washington DC begitu tertib, begitu kontras dengan metro di New York. Untuk mencapai stasiun bawah tanah di New York, kami harus menapaki tangga yang kotor, bukan eskalator. Di sini tak perlu 'kursus' membeli tiket, karena tiket dibeli di loket. Tapi ada satu pesan, yang telah sering kita dengar di Jakarta. ''Perhatikan barang bawaan, karena di sini juga ada copet,'' kata escort.

Di Jakartaa, para pencopet mau berkorban untuk bisa beroperasi di bus Transjakarta. Selain harus membeli tiket, mereka juga tampil rapi: berpakaian ala orang kantoran, plus dasi mengikat leher, menyesuaikan dengan pakaian penumpang. Para pencopet dan penumpang lain, sama-sama sering abai aturan. Mereka berebut masuk ke bus, sehingga penumpang yang mau turun terhambat.

Memberikan pendidikan transportasi kepada anak sekolah tentu dengan sebuah harapan: bahwa mereka telah mempunyai bekal disiplin sejak kecil. Tapi apa iya, cara ini manjur? Ingat-ingatlah apa yang kita peroleh ketika kita juga masih di sekolah dasar dulu. Kita sering diajari tata cara menyeberang, tata cara menyalip kendaraan, tata cara membuang sampah, dan sebagainya. Yang tidak kita dapatkan saat itu adalah tata cara merokok yang tidak membahayakan orang lain. Toh, hasilnya sama saja. Kini kita terbiasa merokok, membuang sampah, menyeberang, dan menyalip kendaraan dengan sembarangan. (Priyantono Oemar, proe12@republika.co.id )

Read More...

Thursday, September 9, 2004

Kronika 2002-2004

26 Desember 2002
Sosialisasi pemasangan rambu lalu lintas: Khusus Busway oleh Dinas Perhubungan Pemprov Jakarta

Jumat, 28 Februari 03:
Selama satu jam, untuk pertama kali Gubernur Sutiyoso melakukan sosialisasi dengan naik bus Transjakarta dari Balikota ke Bundaran Senayan.

26 April-7 Mei 2003:
Studi banding Gubernur Sutiyoso ke Bogota-Kolumbia; Sao Paolo-Brasil; dan Mexico City, Mexico.

Sabtu, 21 Juni 2003:
Dua bus sosialisasi di arena Pekan Raya Jakarta.

Oktober 2003
Dimulainya pembangunan halte, separator, dan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) oleh Dinas Perhubungan Pemprov Jakarta.

31 Desember 2003:
Gubernur Sutiyoso mengeluarkan Surat Keputusan (SK) No 110 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola TransJakarta-Busway Pemprov DKI Jakarta

Senin, 5 Januari 2004:
Ir Irzal Z Djamal dilantik oleh Gubernur Sutiyoso menjadi Kepala Badan Pengelola TransJakarta-Busway yang pertama kali.

Rabu, 6 Januari 2004:
Para calon pramudi (sopir) bus transjakarta mulai mendapatkan pelatihan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Lalu Lintas Serpong, Tangerang.

Sabtu, 10 Januari 2004
Untuk pertama kali, pramudi latihan di sepanjang jalur transjakarta busway.

Kamis, 15 Januari 2004:
Gubernur Sutiyoso meresmikan penggunaan bus TransJakarta untuk pertama kali, dua minggu warga diberi kesempaan gratis untuk naik.

Jumat, 23 Januari 2004:
Suami Presiden Megawati Soekarnoputri, Taufik Kiemas naik bus transjakarta.

Minggu, 25 Januari 2004:
BP TransJakarta meneken kontrak dengan operator bus feeder

27 Januari 2004:
Menko Perekonomian Dorojatun Kuntjorojakti, Menristek Hatta Radjasa, Menpariwisata I Gde Ardika, mencoba bus transjakarta.

30 Januari 2004:
Mendagri Hari Sabarno bersama Sekjen dan tiga Dirjen didampingi Gubernur Sutiyoso, mencoba bus transjakarta.

Minggu, 1 Februari 2004:
Bus TransJakarta resmi beroperasi dengan ditandai dengan naiknya Gubernur Sutiyoso beserta rombongan ke acara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al Azhar di Kebayoran.
Hari itu tercatat jumlah penumpang bus transjakarta: 27.770

20 Februari 2004:
Tujuh orang pejabat Transportasi dari Dhaka, Bangladesh belajar bagaimana transjakarta beroperasi

27 Februari 2004:
Penumpang tertinggi Bulan Februari: 48.888

3 Maret 2004:
Pemaparan Survey JICA (Japan International Cooperation Agency) dan Bappenas di bulan Februari 2004 menunjukkan, setidaknya 14% penumpang Transjakarta Busway berasal dari pengguna mobil pribadi dan 6% pengguna motor. Perubahan moda transportasi ini memiliki arti penting dalam menurunkan emisi kendaraan bermotor

30 Maret 2004:
Penumpang tertinggi Bulan Maret: 62.322. Saat itu ada kampanye legislatif oleh Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Bintang Reformasi

4 Agustus 2004:
Pejabat lintas dinas Pemprov Bali, dipimpin Wakil Gubernur Bali Alit Kesuma Kelakan belajar bagaimana bus transjakarta memberikan pelayanan kepada publik.

18 Agustus 2004:
Sembilan rombongan Dewan Kota Seoul Korea Selatan, yang dipimpin Wakil Ketua Dewan Min Youn-Sik, mengunjungi BP TransJakarta dan sempat mencoba bus transjakarta

Read More...

Wednesday, March 3, 2004

Anggaran tidak transparan

Anggaran Busway Tidak Transparan, Masyarakat Pun Menduga-duga

BUS transjakarta sudah beroperasi selama sebulan lebih lima belas hari. Namun, pihak Pemprov DKI belum pernah mengevaluasi operasional angkutan tersebut secara terbuka dan disosialisasikan kepada masyarakat. Evaluasi justru dilakukan oleh pihak lain, seperti lembaga swadaya masyarakat, para pakar di bidang transportasi, serta masyarakat umum.

SEJAK awal, bus transjakarta memang menuai kritik meski secara konsep tetap didukung. Satu hal yang mengemuka adalah mengenai rincian anggaran yang tidak disampaikan kepada publik. Padahal, anggaran proyek besar tersebut dibiayai oleh rakyat Jakarta lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Lebih aneh lagi, anggota DPRD pun tidak mengetahui rincian anggaran proyek bus transjakarta. Mereka hanya tahu bahwa anggaran itu ada di dalam APBD.

Akibat anggaran yang masih remang-remang itu beberapa LSM pun angkat bicara. Karena sulitnya mendapat rincian pengeluaran biaya proyek, mereka hanya sebatas menduga dan mencocokkan dengan data di lapangan.

Yang paling jelas sebenarnya adalah bus transjakarta itu sendiri. Orang berkomentar, "Keterlaluan kalau bus transjakarta yang umurnya masih bisa dihitung dengan jari sudah rusak-rusak."

Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) mencatat, dalam sebulan beroperasi, rata-rata tiap hari ada bus yang rusak atau mogok. Antara lain rusak pada bodi, mesin, pegangan tangan, juga sensor pintu. Hingga 8 Februari, terdapat dua bus yang rusak berat, tujuh bus rusak ringan, dan dua bus tidak ada awaknya. Dari 56 bus yang ada, tinggal 47 yang beroperasi.

Tak heran kalau kemudian berembus berbagai dugaan mengenai penyelewengan dana. Bahkan, ada yang menduga bus baru itu menggunakan mesin lama. DPRD DKI Jakarta bahkan pernah berencana membuat panitia khusus untuk menyelidiki penyimpangan dalam proyek yang menggunakan APBD DKI tahun 2002 sebesar Rp 2,4 miliar, Rp 118 miliar (2003), dan Rp 120 miliar (2004).

Entah bagaimana, rencana membentuk pansus itu tidak berjalan mulus. Setidaknya, keinginan Wakil Ketua DPRD Chudlary dan sebagian anggota Komisi D untuk membuat pansus itu tidak sejalan dengan sikap Ketua Komisi D Koeswadi Soesilohardjo.
"Kerusakan bus bukan disebabkan karena bus lama atau bodong," kata Koeswadi membela.

Namun, anggota Komisi D dari Fraksi PDI Perjuangan, Dadang Hamdani, mengakui adanya kecurigaan sejumlah anggota dewan bahwa mesin bus transjakarta adalah mesin lama.

Direktur PT Jakarta Express Trans Wahid Sukamto mengatakan, kerusakan bus belum sampai kepada mesin. "Paling-paling karena dinamo starternya terganggu karena sopir kerap salah over persneling," katanya.

Humas BP Transjakarta Ajar Aedi mengatakan, bus yang rusak masih dalam garansi perbaikan dari perusahaan tempat pembelian mobil tersebut.

Wahid mengatakan, 56 bus terdiri atas 17 unit dengan mesin Mercedes-Benz tipe OH 1521/60 dan 39 unit mesin Hino tipe RG. Sebanyak 43 unit bus dikaroseri PT New Armada, sedangkan sisanya dikaroseri PT restu Ibu.

"Kalau jenis OH 1521/60 itu berarti mesin memakai sistem interculair, dengan kekuatan di atas 200 horse power. Kalau untuk Hino tipe RG, itu 220 horse power," jelas Wahid.

TUDINGAN penggelembungan dana proyek busway itu memang sulit dikonfirmasi. Dalam APBD disebutkan, harga satu bus adalah Rp 850 juta.
Dalam penelusuran selanjutnya ke perusahaan karoseri PT New Armada (Magelang) dan PT Restu Ibu (Bogor) harga satu bus Hino adalah Rp 821,7 juta, sedangkan bus Mercedes Rp 846,5 juta. Harga itu sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Kalau dihitung untuk 56 bus, anggaran yang digunakan untuk pengadaan 56 bus mencapai Rp 47,60 miliar.

Sementara itu, keterangan yang dihimpun dari sejumlah pengusaha bus yang tergabung dalam Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) DKI Jakarta menyebutkan, harga chasis bus merek Mercedes-Benz tipe OH 1521/60 adalah Rp 350 sampai Rp 390 juta per unit. Harga karoseri Rp 170 juta dan harga AC Rp 85 juta. Total biaya Rp 645 juta per unit.

Sementara harga bus Hino tipe RG untuk chasis sebesar Rp 330 juta. Harga karoseri dan AC sama dengan Mercedes. Keseluruhan biaya bus Rp 585 juta.
Harga yang disebutkan sumber-sumber yang enggan disebutkan namanya itu adalah untuk bus dengan 44 tempat duduk. Dengan asumsi, bus transjakarta yang hanya 30 tempat duduk berarti harga yang satu unit bus harus lebih rendah dari 44 tempat duduk.

Kecurigaan lain dari Dadang adalah bisa saja bus transjakarta yang digunakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI itu meniru bus operasional DPRD DKI Jakarta. Namanya juga Mercedes-Benz, tetapi peruntukannya bukan untuk bus. "Chasisnya untuk truk. Jadi, saat dipakai tarikan tenaganya payah," kata Dadang.

Namun, berbagai kecurigaan itu dibantah Ketua Komisi D DPRD DKI Koeswadi Soesilohardjo. "Tidak mungkin Mercedes-Benz membiarkan ada perusahaan yang menjual produknya asal-asalan, menjual truk dengan merek Mercedes-Benz, tetapi mengubah chasisnya untuk bus," katanya.

Dadang masih mencoba mempertanyakan dari mana bus untuk Transjakarta itu didatangkan. Apakah dari Thailand, Vietnam, India, atau Jerman? "Kami tidak pernah diberi tahu. Pemprov DKI, Dinas Perhubungan, dan BP Transjakarta selalu tidak transparan soal itu," ungkap Dadang.
Ia mengatakan, tidak transparannya Pemprov DKI, Dinas Perhubungan dan BP Transjakarta juga dalam hal spesifikasi dan pertimbangan teknis, termasuk juga pembelian bus transjakarta.

Baik Koeswadi, Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang punya proyek dan BP Transjakarta sebagai pengelola busway mengatakan, bus transjakarta adalah barang baru, bukan bodong dan disertai dengan faktur pembelian bus. Jadi, bernar-benar asli.
Sayangnya, hal itu hanya sebatas pernyataan. Mereka sulit memperlihatkan kepada Kompas bukti hitam di atas putih.

ITU baru soal pengadaan bus. Bagaimana dengan pembangunan halte dan jembatan penyeberangan orang? Ketua Umum Gabungan Pengusaha Konstruksi (Gapensi) DKI Jakarta Effendi Sianipar mengatakan, bahkan dirinya pun tidak mengetahui nama-nama kontraktor yang dilibatkan dinas perhubungan (dishub). "Makanya, saya juga tidak tahu berapa budget untuk membangun halte dan JPO. Tetapi, kalau melihat bahannya, itu termasuk K1 atau nilainya di atas Rp 400 juta," kata Sianipar.

Dikatakan, dia tidak mengetahui berapa sebenarnya anggaran APBD. Namun, biasanya perusahaan konstruksi hanya mengikuti nilai yang dirinci dishub. "Kalau namanya pengusaha, pastilah mengambil untung, paling tidak 10 persen. Bahkan, sampai 20 persen pun masih boleh," tutur Sianipar.

Sekretaris Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Poltak Situmorang mengatakan, menurut UU Nomor 18 Tahun 1999, seharusnya Dinas Perhubungan DKI melaporkan hasil kontrak paling lambat 15 hari setelah teken kontrak dengan kontraktor. Nyatanya, sampai detik ini, laporan itu tidak diberikan. "Ini memang sengaja ditutup-tutupi, saya saja tidak tahu perusahaan mana yang ditunjuk," kata Situmorang.

Sumber di Gapensi mengatakan, tidak ada satu pun perusahaan yang menang tender karena memang tidak ditenderkan. Hampir semuanya penunjukan langsung.
Padahal, menurut Surat Keputusan Bersama Menkeu dan Menneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Nomor Kep-52/A/2002 tanggal 10 April 2002 tentang Perubahan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Keppres Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah, ada sejumlah kriteria pemilihan atau penunjukan langsung.

Kriteria pemilihan langsung antara lain jika proyek tersebut untuk penanganan darurat keamanan dan keselamatan masyarakat. Jenis pekerjaan juga sesuatu yang perlu dirahasiakan. Penunjukan langsung hanya bisa dilakukan untuk pekerjaan berskala kecil, yaitu maksimal senilai Rp 50 juta.

Jika sudah demikian, masihkah pemprov tetap membisu? (Susi Ivvaty/ Pinkan Elita Dundu) - Kompas

Read More...

Sunday, January 18, 2004

Lahir sangat prematur

Bossway

Baiklah, Transjakarta kadung berjalan. Ia bakal menjadi icon baru transportasi Jakarta, setelah bus semacam Metromini dan Kopaja berhasil menjelma sebagai istilah generik angkutan umum menengah Ibu Kota.

Sebagai bayi, Transjakarta lahir sangat prematur. Tak cukup usia kandungan untuk dia sebenarnya. Bayangkan, hanya sehari sebelum peluncurannya, banyak warga tetap tak mengenalnya: Apakah rute bus saya selama ini akan terpangkas? Apa makna bus pengumpan? Bagaimana orang cacat bisa menggunakannya? Di mana saya boleh memutar bila mobil saya harus melintasi jalur Transjakarta?

Kita tak tahu apa yang menekan Bang Yos untuk berkeras dengan jadwalnya. Kita mungkin tak perlu tahu. Tapi, kita perlu mengingatkan dia tentang adanya kesenjangan komunikasi antara pembuat kebijakan dan warga kota. Ada jarak antara agenda Bang Gubernur dan cita-cita warga.

Siapa yang harus memperpendek jarak itu? Tentu bukan warga yang harus berusaha keras memahami para pemimpin. Tentu bukan rakyat karena mereka akan terpontang-panting--sebagaimana terjadi di era Presiden Wahid. Gubernurlah yang harus mengenali kemauan warganya dan memperkenalkan sebaik-baiknya keputusan dia.

Umar bin Khattab, khalifah kedua pada era awal kejayaan Islam, berusaha mengenal rakyatnya dengan mengunjungi langsung rumah-rumah mereka. Ia tak cukup mendengar laporan bawahannya. Ia secara incognito mendatangi kampung-kampung untuk mendekatkan jarak, sehingga hilang segala noise komunikasi.

Sebagai pemimpin, Umar menemukan kenyataan ada seorang ibu yang harus merebus batu untuk menghibur anaknya yang kelaparan. Umar yang terkenal berwatak keras pun luluh. Hatinya menangis. Ia kemudian rela menggendong sendiri karung gandum untuk sang ibu.

Kesenjangan komunikasi bisa sama buruknya dengan kebijakan yang buruk. Transjakarta boleh jadi konsep yang baik. Tapi, ia bisa cacat karena warga tidak cukup bisa memahami keberadaannya. Warga, misalnya, masih saja bertanya-tanya mengapa perjalanan mereka di Ibu Kota tetap menyita waktu amat banyak, berjam-jam hanya untuk beberapa kilometer?

Transjakarta lahir dengan inspirasi busway di Bogota. Tapi, Bang Yos tak sepenuhnya mengambil konsep di ibu kota Kolombia itu. Ia memungutnya sebagian.

Di Bogota, kelahiran busway beriringan dengan perubahan radikal kultur berkendaraan. Warga sudah jenuh dengan kemacetan dan polusi udara. Maka, saat Walikota Enrique Penalosa menawarkan sepeda sebagai penyelesaian, mereka antusias. Busway pun akhirnya lahir dalam paket yang sama dengan ''sepedaway''.

Penalosa mengawali proyeknya pada 1980-an. Ia menutup sejumlah jalan selama tujuh jam pada hari Ahad dari mobil. Warga yang hendak pergi agak jauh cukup mengunjungi halte busway. Ia memarkir sepedanya di sana, lalu menuntaskan perjalanan dengan bus. Prasarana untuk bus umum maupun sepeda diperbaiki.

Kini, saat Penalosa telah pensiun, 120 kilometer jalan di Bogota bebas dari mobil pribadi sepanjang hari Ahad. Dua juta sepeda pada hari tersebut turun ke jalan raya, berbaur dengan pejalan kaki dan pengguna roller blade.

Penalosa bukannya tak punya penentang. Kalangan bisnis sempat menolak. Sebuah kritik mengatakan ia hendak mengkomuniskan Bogota--karena seluruh warga bersepeda dan berkendaraan umum. Tapi, Penalosa dapat meyakinkan warga Bogota karena ia pun larut dalam konsep untuk warganya. Ia adalah bagian dari warga.

Jadi, Penalosa pun bersepeda. Ia juga menggunakan busway. Ia merasakan langsung kekurangan pada gagasannya. Ia bagai Umar yang mempersempit jarak komunikasi dengan terjun langsung ke wilayah kehidupan rakyatnya.

Saya, terus terang, tak begitu tega membayangkan Bang Yos larut dalam pekerjaan besarnya kali ini: Ia keluar dari rumah di kawasan Taman Suropati, melenggang 50 meter ke Jalan Diponegoro, lalu menanti kedatangan bus pengumpan di halte Gedung Bappenas.

Kemudian, ia naik bus menuju Jalan Sudirman, lalu antre karcis di halte busway, dan naik Transjakarta menuju kawasan Monas. Dari Jalan Medan Merdeka Barat, mungkin ia harus naik bajaj, atau kancil di masa depan, ke kantornya. Saat terguncang-guncang di dalam bajaj yang full asap, ia mulai berpikir-pikir untuk memakai sepeda--seperti Penalosa.

Walau tak begitu tega, saya menyarankan ia mencobanya. Bukan hanya saat peluncuran Transjakarta, Kamis lalu--sebuah seremoni penuh artis. Mungkin, seperti Penalosa, ia bisa menekadkan diri untuk melakukannya sepekan sekali, katakanlah di hari Senin atau Jumat.

Dengan begitu, ia bisa memandang kotanya dari cara pandang warga lain. Tunjukkan kenyamanan konsep busway. Tetaplah berjas dan berdasi. Tunjukkan pula keamanannya. Sekalian bawa lap top dan handphone seperti biasa dan bekerjalah di atas bus.

Bolehlah, dari atas Transjakarta Bang Yos meledek penumpang mobil pribadi yang terjebak kemacetan, sementara ia dan busnya melaju tanpa rintangan. Ia menunjukkan bahwa busway layak untuk eksekutif seperti dia; bahwa busway adalah juga bossway. kalyara@yahoo.com (Arys Hilman - republika)

Read More...